PEMBELAJARAN
DENGAN MENGGUNAKAN MODEL BERMAIN PUZZLE
Belajar
adalah suatu proses dimana siswa harus aktif. Belajar yang aktif dalam dunia pendidikan adalah apabila siswa mampu
menyerap semua aktivitas yang dilakukannya dengan kemampuan dasar yang dimiliki
serta mampu berpikir kritis sehingga melahirkan kemampuan personal yang aktif
untuk melakukan kegiatan proses pendidikan pada umumnya dan lebih khusus pada
pembelajaran IPS. Akan tetapi pada umumnya kemampuan berpikir siswa
pada pelajaran IPS masih rendah salah satu penyebabnya adalah masih ada
anggapan di MTs. Negeri 1 Pontianak bahwa pelajaran IPS merupakan pelajaran
nomor dua. Para orang tua siswa berpendapat IPS merupakan pelajaran yang tidak
terlalu penting dibandingkan dengan pelajaran lainnya, seperti IPA dan
matematika. Hal ini merupakan pandangan yang keliru. Sebab, pelajaran apa pun
diharapkan dapat membekali siswa baik untuk terjun ke masyarakat maupun untuk
melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Kekeliruan ini juga
terjadi pada sebagian besar guru. Mereka berpendapat bahwa IPS pada hakikatnya
adalah pelajaran hapalan yang tidak menantang untuk berpikir. IPS adalah
pelajaran yang sarat dengan konsep-konsep, pengertian-pengertian, data, atau
fakta yang harus dihafal dan tidak perlu dibuktikan.
Kenyataan yang terjadi di MTs. Negeri 1
Pontianak khususnya di kelas IXF, pada pembelajaran IPS Terpadu guru mengalami
kendala saat menyajikan materi pelajaran. Hal ini dikarenakan banyaknya peserta
didik yang kurang bersemangat dalam mengikuti kegiatan belajar mengajar dan
tidak sedikit diantara mereka peserta didik yang hanya duduk dan diam
mendengarkan ceramah dari guru sehingga berdampak pada kurangnya motivasi
peserta didik dalam kegiatan belajar mengajar dikelas. Dengan kata lain banyak
perilaku peserta didik yang menunjukkan kurang antusias ketika pelajaran
berlangsung. Hal tersebut berdampak pada presentase ketercapaian ketuntasan
belajar yang rendah sehingga untuk mencapai tahap ketuntasan harus dilakukan
remidi.
Belum
tercapainya tujuan pembelajaran bukan hanya disebabkan oleh faktor peserta
didik saja melainkan karena kurangnya upaya guru untuk mengadakan variasi dalam
kegiatan belajar-mengajar. Kebanyakan guru masih menggunakan metode ceramah
dalam mengajar. Sehingga pelajaran ini menjadi tidak menarik minat siswa untuk
mengikuti proses belajar-mengajar. Akibatnya banyak siswa yang ribut dan tidak
mendengarkan penjelasan dari guru. Selain itu kegiatan belajar mengajar kurang
menarik dan membosankan karena siswa tidak dirangsang atau ditantang untuk
belajar dan berpikir. Serta mengakibatkan siswa jadi pasif dan kemampuan
berpikirnya tidak berkembang secara baik. Jadi guru hendaknya berusaha mencari
solusi bagaimana caranya atau model apa yang harus digunakan agar proses
pembelajaran dapat berjalan efektif, menyenangkan dan melibatkan keaktifan
siswa. Sehingga dapat menciptakan kondisi dan situasi belajar yang menarik
minat siswa untuk menyenangi pelajaran tersebut dan dapat meningkatkan
keberhasilan belajar siswa.
Untuk meningkatkan mutu dan
hasil belajar dalam pengajaran seorang guru dituntut supaya menguasai dan
menerapkan berbagai model pengajaran IPS. Model pembelajaran merupakan bagian
yang penting dalam proses belajar mengajar untuk mencapai hasil belajar siswa
yang sesuai dengan rencana, artinya model perlu dipilihkan yang tepat dalam
proses pembelajaran, karena tanpa model yang tepat maka proses pembelajaran
tidak akan mendapatkan hasil belajar yang optimal.Ada banyak model-model
pembelajaran alternatif diantaranya adalah student facilitator and explaining,
tebak kata, bertukar pasangan, scramble, word square, kata konsep,
inside-outside-circle (lingkaran kecil-lingkaran besar), pengajaran langsung,
demonstrasi, group investigation, course review horay, snowball throwing,
cooperative script, kepala bernomor struktur, problem based introductuon,
artikulasi, think pair share, take and give, conseptsentense, mind mapping,
time token, pair cheks, complete sentense, keliling kelompok, tari bamboo, dua
tinggal dua tamu, Student Teams-Achievement Divisions (STAD), debate, picture
and picture, examples non examples, jigsaw, numbered heads together,
Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC), dan talking stik. Dalam
penelitian ini penulis menerapkan model pembelajaran bermain puzzle angka.
Dalam pembelajaran bermain puzzle angka siswa diajak bermain dengan bentuk
permainan sesuai dengan tema materi pelajaran.
Pembelajaran bermain puzzle angka
bertujuan untuk meningkatkan daya ingat
menghilangkan rasa kejenuhan dalam belajar,kemampuan berkreativitas meningkat
dan kemampuan berinovasi yang dimiliki dapat mencapai posisi puncak. karena
disini guru menginginkan siswa memikirkan secara lebih mendalam tentang apa
yang telah dijelaskan atau dialami.
Menurut A. Hamid Syarief (dalam Suryani,
1995:278), mengatakan bahwa “seorang dianggap siswa secara perorangan
(individu) dianggap “tuntas belajar”, apabila daya serapnya mencapai 65%.
Sedangkan secara klasikal (kelompok) dianggap “tuntas belajar” apabila daya
serapnya mencapai 85% dari jumlah siswa yang mencapai daya serap minimal 65%.
Namun atas kesepakatan dari sekolah, Madrasah Tsanawiyah Negeri 1 Pontianak
siswa dianggap tuntas belajar apabila mencapai nilai 78.
Menurut data awal yang penulis peroleh
untuk mata pelajaran IPS nilai rata-rata kelasnya masih rendah.
Berikut ini penulis tampilkan nilai
rata-rata kelas yang diperoleh untuk mata pelajaran IPS pada ulangan harian kompetensi dasar tahun ajaran 2019/2020.
Tabel
1.1 :Nilai rata-rata ulangan harian kompetensi dasar kelas IX pada mata
pelajaran IPS di semester ganjil tahun ajaran 2019 / 2020
Kelas
|
Jumlah siswa
|
Jumlah nilai
|
Nilai rata-rata kelas
|
Ketuntasan belajar
|
IX D
IX E
IX F
|
40
40
40
|
2440
2360
2360
|
6,1
5,9
5,9
|
Tuntas
Tidak tuntas
Tidak tuntas
|
Sumber : Daftar nilai guru mata pelajaran
IPS MTs Negeri 1 Pontianak
Berdasarkan tabel 1.1, menunjukkan bahwa
rendahnya kemampuan siswa dalam menyerap materi pelajaran tercermin dari
rendahnya hasil belajar yang dicapai oleh siswa. Dari keenam kelas yang ada
terlihat bahwa kelas IX F adalah kelas yang memiliki nilai rata-rata paling
rendah dibanding dengan nilai kelas lainnya. Disamping itu berdasarkan
informasi guru lainnya kelas IX F merupakan kelas yang paling kurang
motivasinya dalam mengikuti proses belajar mengajar, sehingga penelitian
tindakan kelas ini dipandang perlu untuk dilaksanakan di kelas IX F. Berikut
ini adalah klasifikasi nilai ulangan harian kompetensi dasar siswa kelas IX F.
Tabel
1.2 : Daftar nilai ulangan harian blok kompetensi dasar kelas IX F pada mata
pelajaran IPS di semester ganjil tahun ajaran 2019 / 2020.
No
|
Nama siswa
|
Nilai
|
Ketuntasan belajar
|
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33
34
35
36
37
38
|
Ahmad Reza
Alda Hikmatul Maulia
Alif Rahman AlMunawir
Andi Annas Talcha
Bima Saputra
Dede Agustianto
Diva Aulia Putri
Farhan Ihsani
Fatya Salsabila
Fazila
Fitriana Destianty
Gaisan
Gistra Faradina Islami Tarigan
Haris Firmansyah
Imam Satrio Purnomo
Indri Safitri
Melynda Maharani
Muhammad Akbar Putra R
Muhammad Fadhillah F
Muhammad Hafizh Hardiansyah
Nandita Audia Maulani
Nizham Danang Akbari
Putri Aulia Rahman
Putri Febrina Sandra
Raffi Al Faqih
Rafiqa Fakhira
Raihan
Raihan Al Hafiz
Restra Wira Pratama
Ruby Adya Ananta
Sad Rifal
Shella Adhela
Shyahrul Ramadhan
Shandika Rahman Hakim
Syarifah Maisarah Assegaf
Winda Nasya
Yasfita Artarisa
M. Mildiandesta Npviri Ariql
|
80
50
50
85
80
85
56
50
80
86
35
90
80
84
84
50
67
85
40
66
90
80
40
50
87
84
60
80
73
40
80
70
53
50
80
40
73
50
|
Tuntas
Tidak tuntas
Tdak tuntas
Tuntas
Tuntas
Tuntas
Tidak tuntas
Tidak tuntas
Tidak tuntas
Tidak tuntas
Tidak tuntas
Tuntas
Tuntas
Tuntas
Tuntas
Tidak tuntas
Tidak tuntas
Tuntas
Tidak tuntas
Tidak tuntas
Tuntas
Tuntas
Tidak tuntas
Tidak tuntas
Tuntas
Tuntas
Tidak tuntas
Tuntas
Tidak tuntas
Tidak tuntas
Tuntas
Tidak tuntas
Tidak tuntas
Tidak tuntas
Tuntas
Tidak tuntas
Tidak tuntas
Tidak tuntas
|
Sumber
: Daftar nilai guru mata pelajaran IPS ekonomi MTs Negeri 1 Pontianak
Berdasarkan tabel 1.2, menunjukkan bahwa
yang memperoleh nilai lebih besar atau sama dengan 78 berjumlah 18 orang atau
45 % sedangkan yang mendapatkan nilai di bawah 60 berjumlah 22 orang atau 55 %.
Hal ini berarti bahwa 45 % siswa tuntas dalam memenuhi standar kompetensi
dasar, sedangkan 55 % siswa tidak tuntas dalam memenuhi standar kompetensi
dasar.
Di kelas IX F MTs Negeri 1 Pontianak, mata
pelajaran IPS diajarkan 4 jam pelajaran dalam 1 minggu dengan waktu 4 jam
pelajaran 4 x 40 menit. Proses pembelajaran yang selama ini dilakukan oleh
guru, belum dapat mengoptimalkan kemampuan siswa dalam memahami materi
pelajaran, siswa lebih bersifat pasif dan kurang termotivasi untuk mengikuti
proses belajar mengajar.
Berdasarkan hasil yang dicapai guru mata
pelajaran IPS ditemukan bahwa penyebab
rendahnya hasil belajar siswa kelas IX F pada mata pelajaran IPS, karena
kurangnya kemampuan berpikir siswa karena guru kurang menggunakan variasi dalam
menggunakan metode mengajar. Dalam kegiatan belajar mengajar guru IPS ekonomi
masih menggunakan metode ceramah kepada siswa, metode tanya jawab juga
digunakan akan tetapi jumlahnya relatif sedikit. Selain itu proses belajar
mengajar dilaksanakan pada siang hari sehingga siswa menjadi lebih pasif dan
kurang termotivasi untuk mengikuti proses belajar mengajar.
Oleh karena itu, penulis melakukan
perbaikan melalui penelitian tindakan kelas. Dengan penelitian ini juga dapat
dilakukan observasi, refleksi dan menentukan langkah-langkah selanjutnya.
Sehingga kemampuan berpikir siswa dapat ditingkatkan dan siswa termotivasi
untuk mengikuti kegiatan belajar mengajar.
Berdasarkan
uraian-uraian diatas, maka perlu dilakukan penelitian tindakan kelas mengenai “ Meningkatkan Kemampuan Berpikir Siswa Pada Mata Pelajaran IPS Melalui
Model Pembelajaran Alternatif bermain puzzle angka di Kelas IX F MTs Negeri 1 Pontianak Tahun
Pelajaran 2019//2020”..
A. Rumusan Masalah
Adapun masalah
penelitiannya adalah “apakah kemampuan berpikir siswa kelas IX F di Madrasah
Tsanawiyah Negeri 1 Pontianak dapat ditingkatkan dengan menggunakan model
pembelajaran bermain puzzle angka oleh guru?”. Hal ini disebabkan karena :
1. Metode mengajar yang digunakan guru
kurang bervariasi.
2. Guru menggunakan metode ceramah.
3. Siswa pasif dan kurang termotivasi
untuk mengikuti proses belajar mengajar.
B.
Hipotesis Tindakan
Adapun Hipotesis
tindakan sebagai berikut :”Jika model pembelajaran bermain puzzle angka
diterapkan dalam mata pelajaran IPS, maka kemampuan berpikir siswa kelas IX F
MTs. Negeri 1 Pontianak tahun pelajaran 2019/2020 dapat ditingkatkan”.
C.
Manfaat Penelitian
1. Bagi Sekolah
Penelitian ini
diharapkan dapat memberikan masukan kepada pihak sekolah untuk dapat
meningkatkan kinerjanya dalam pengelolaan pembelajaran, terutama dalam
menemukan dan mempergunakan model-model pembelajaran alternatif yang pada akhirnya dapat meningkatkan
kualitas siswa, dan mutu sekolah.
2. Bagi Guru
Penelitian ini
diharapkan pula dapat bermanfaat bagi guru khususnya guru IPS sebagai bahan masukan dalam Meningkatkan
kemampuan berpikir siswa khususnya siswa kelas IX F di MTs Negeri 1 Pontianak.
3. Bagi Siswa
Penelitian ini
diharapkan dapat bermanfaat bagi siswa untuk lebih meningkatkan kemampuan
berpikirnya dalam mencapai hasil yang maksimal.
4. Bagi Pengembang Kurikulum
Penelitian ini
diharapkan dapat mencari solusi/pemecahan masalah terhadap permasalahan yang
dihadapi baik guru maupun siswa sehingga dapat meningkatkan daya piker melalui
tindakan nyata dengan menerapkan berbagai model pembelajaran sebagai pijakan
dalam mengembangkan kurikulum
Tidak ada komentar:
Posting Komentar