Senin, 13 Juli 2020

Pembelajaran dengan menggunakan model bermain Puzzle


PEMBELAJARAN DENGAN MENGGUNAKAN MODEL BERMAIN PUZZLE

Belajar adalah suatu proses dimana siswa harus aktif. Belajar yang aktif dalam dunia pendidikan adalah apabila siswa mampu menyerap semua aktivitas yang dilakukannya dengan kemampuan dasar yang dimiliki serta mampu berpikir kritis sehingga melahirkan kemampuan personal yang aktif untuk melakukan kegiatan proses pendidikan pada umumnya dan lebih khusus pada pembelajaran IPS. Akan  tetapi pada umumnya kemampuan berpikir siswa pada pelajaran IPS masih rendah salah satu penyebabnya adalah masih ada anggapan di MTs. Negeri 1 Pontianak bahwa pelajaran IPS merupakan pelajaran nomor dua. Para orang tua siswa berpendapat IPS merupakan pelajaran yang tidak terlalu penting dibandingkan dengan pelajaran lainnya, seperti IPA dan matematika. Hal ini merupakan pandangan yang keliru. Sebab, pelajaran apa pun diharapkan dapat membekali siswa baik untuk terjun ke masyarakat maupun untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Kekeliruan ini juga terjadi pada sebagian besar guru. Mereka berpendapat bahwa IPS pada hakikatnya adalah pelajaran hapalan yang tidak menantang untuk berpikir. IPS adalah pelajaran yang sarat dengan konsep-konsep, pengertian-pengertian, data, atau fakta yang harus dihafal dan tidak perlu dibuktikan.
 Kenyataan yang terjadi di MTs. Negeri 1 Pontianak khususnya di kelas IXF, pada pembelajaran IPS Terpadu guru mengalami kendala saat menyajikan materi pelajaran. Hal ini dikarenakan banyaknya peserta didik yang kurang bersemangat dalam mengikuti kegiatan belajar mengajar dan tidak sedikit diantara mereka peserta didik yang hanya duduk dan diam mendengarkan ceramah dari guru sehingga berdampak pada kurangnya motivasi peserta didik dalam kegiatan belajar mengajar dikelas. Dengan kata lain banyak perilaku peserta didik yang menunjukkan kurang antusias ketika pelajaran berlangsung. Hal tersebut berdampak pada presentase ketercapaian ketuntasan belajar yang rendah sehingga untuk mencapai tahap ketuntasan harus dilakukan remidi.

Belum tercapainya tujuan pembelajaran bukan hanya disebabkan oleh faktor peserta didik saja melainkan karena kurangnya upaya guru untuk mengadakan variasi dalam kegiatan belajar-mengajar. Kebanyakan guru masih menggunakan metode ceramah dalam mengajar. Sehingga pelajaran ini menjadi tidak menarik minat siswa untuk mengikuti proses belajar-mengajar. Akibatnya banyak siswa yang ribut dan tidak mendengarkan penjelasan dari guru. Selain itu kegiatan belajar mengajar kurang menarik dan membosankan karena siswa tidak dirangsang atau ditantang untuk belajar dan berpikir. Serta mengakibatkan siswa jadi pasif dan kemampuan berpikirnya tidak berkembang secara baik. Jadi guru hendaknya berusaha mencari solusi bagaimana caranya atau model apa yang harus digunakan agar proses pembelajaran dapat berjalan efektif, menyenangkan dan melibatkan keaktifan siswa. Sehingga dapat menciptakan kondisi dan situasi belajar yang menarik minat siswa untuk menyenangi pelajaran tersebut dan dapat meningkatkan keberhasilan belajar siswa.
                  Untuk meningkatkan mutu dan hasil belajar dalam pengajaran seorang guru dituntut supaya menguasai dan menerapkan berbagai model pengajaran IPS. Model pembelajaran merupakan bagian yang penting dalam proses belajar mengajar untuk mencapai hasil belajar siswa yang sesuai dengan rencana, artinya model perlu dipilihkan yang tepat dalam proses pembelajaran, karena tanpa model yang tepat maka proses pembelajaran tidak akan mendapatkan hasil belajar yang optimal.Ada banyak model-model pembelajaran alternatif diantaranya adalah student facilitator and explaining, tebak kata, bertukar pasangan, scramble, word square, kata konsep, inside-outside-circle (lingkaran kecil-lingkaran besar), pengajaran langsung, demonstrasi, group investigation, course review horay, snowball throwing, cooperative script, kepala bernomor struktur, problem based introductuon, artikulasi, think pair share, take and give, conseptsentense, mind mapping, time token, pair cheks, complete sentense, keliling kelompok, tari bamboo, dua tinggal dua tamu, Student Teams-Achievement Divisions (STAD), debate, picture and picture, examples non examples, jigsaw, numbered heads together, Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC), dan talking stik. Dalam penelitian ini penulis menerapkan model pembelajaran bermain puzzle angka. Dalam pembelajaran bermain puzzle angka siswa diajak bermain dengan bentuk permainan sesuai dengan tema materi pelajaran.
       Pembelajaran bermain puzzle angka bertujuan  untuk meningkatkan daya ingat menghilangkan rasa kejenuhan dalam belajar,kemampuan berkreativitas meningkat dan kemampuan berinovasi yang dimiliki dapat mencapai posisi puncak. karena disini guru menginginkan siswa memikirkan secara lebih mendalam tentang apa yang telah dijelaskan atau dialami.
      Menurut A. Hamid Syarief (dalam Suryani, 1995:278), mengatakan bahwa “seorang dianggap siswa secara perorangan (individu) dianggap “tuntas belajar”, apabila daya serapnya mencapai 65%. Sedangkan secara klasikal (kelompok) dianggap “tuntas belajar” apabila daya serapnya mencapai 85% dari jumlah siswa yang mencapai daya serap minimal 65%. Namun atas kesepakatan dari sekolah, Madrasah Tsanawiyah Negeri 1 Pontianak siswa dianggap tuntas belajar apabila mencapai nilai 78.
      Menurut data awal yang penulis peroleh untuk mata pelajaran IPS nilai rata-rata kelasnya masih rendah.
      Berikut ini penulis tampilkan nilai rata-rata kelas yang diperoleh untuk mata pelajaran IPS pada ulangan harian  kompetensi dasar tahun ajaran 2019/2020.
Tabel 1.1 :Nilai rata-rata ulangan harian kompetensi dasar kelas IX pada mata pelajaran IPS di semester ganjil tahun ajaran 2019 / 2020
Kelas
Jumlah siswa
Jumlah nilai
Nilai rata-rata kelas
Ketuntasan belajar
IX D
IX E
IX F
40
40
40

2440
2360
2360



6,1
5,9
5,9
Tuntas
Tidak tuntas
Tidak tuntas
Sumber : Daftar nilai guru mata pelajaran IPS  MTs Negeri 1   Pontianak

      Berdasarkan tabel 1.1, menunjukkan bahwa rendahnya kemampuan siswa dalam menyerap materi pelajaran tercermin dari rendahnya hasil belajar yang dicapai oleh siswa. Dari keenam kelas yang ada terlihat bahwa kelas IX F adalah kelas yang memiliki nilai rata-rata paling rendah dibanding dengan nilai kelas lainnya. Disamping itu berdasarkan informasi guru lainnya kelas IX F merupakan kelas yang paling kurang motivasinya dalam mengikuti proses belajar mengajar, sehingga penelitian tindakan kelas ini dipandang perlu untuk dilaksanakan di kelas IX F. Berikut ini adalah klasifikasi nilai ulangan harian  kompetensi dasar siswa kelas IX F.
Tabel 1.2 : Daftar nilai ulangan harian blok kompetensi dasar kelas IX F pada mata pelajaran IPS di semester ganjil tahun ajaran 2019 / 2020.
No
Nama siswa
Nilai
Ketuntasan belajar
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33
34
35
36
37
38
Ahmad Reza
Alda Hikmatul Maulia
Alif Rahman AlMunawir
Andi Annas Talcha
Bima Saputra
Dede Agustianto
Diva Aulia Putri
Farhan Ihsani
Fatya Salsabila
Fazila
Fitriana Destianty
Gaisan
Gistra Faradina Islami Tarigan
Haris Firmansyah
Imam Satrio Purnomo
Indri Safitri
Melynda Maharani
Muhammad Akbar Putra R
Muhammad Fadhillah F
Muhammad Hafizh Hardiansyah
Nandita Audia Maulani
Nizham Danang Akbari
Putri Aulia Rahman
Putri Febrina Sandra
Raffi Al Faqih
Rafiqa Fakhira
Raihan
Raihan Al Hafiz
Restra Wira Pratama
Ruby Adya Ananta
Sad Rifal
Shella Adhela
Shyahrul Ramadhan
Shandika Rahman Hakim
Syarifah Maisarah Assegaf
Winda Nasya
Yasfita  Artarisa
M. Mildiandesta Npviri Ariql
80
50
50
85
80
85
56
50
80
86
35
90
80
84
84
50
67
85
40
66
90
80
40
50
87
84
60
80
73
40
80
70
53
50
80
40
73
50
Tuntas
Tidak tuntas
Tdak tuntas
Tuntas
Tuntas
Tuntas
Tidak tuntas
Tidak tuntas
Tidak tuntas
Tidak tuntas
Tidak tuntas
Tuntas
Tuntas
Tuntas
Tuntas
Tidak tuntas
Tidak tuntas
Tuntas
Tidak tuntas
Tidak tuntas
Tuntas
Tuntas
Tidak tuntas
Tidak tuntas
Tuntas
Tuntas
Tidak tuntas
Tuntas
Tidak tuntas
Tidak tuntas
Tuntas
Tidak tuntas
Tidak tuntas
Tidak tuntas
Tuntas
Tidak tuntas
Tidak tuntas
Tidak tuntas
Sumber : Daftar nilai guru mata pelajaran IPS ekonomi MTs Negeri 1 Pontianak
      Berdasarkan tabel 1.2, menunjukkan bahwa yang memperoleh nilai lebih besar atau sama dengan 78 berjumlah 18 orang atau 45 % sedangkan yang mendapatkan nilai di bawah 60 berjumlah 22 orang atau 55 %. Hal ini berarti bahwa 45 % siswa tuntas dalam memenuhi standar kompetensi dasar, sedangkan 55 % siswa tidak tuntas dalam memenuhi standar kompetensi dasar.
      Di kelas IX F MTs Negeri 1 Pontianak, mata pelajaran IPS diajarkan 4 jam pelajaran dalam 1 minggu dengan waktu 4 jam pelajaran 4 x 40 menit. Proses pembelajaran yang selama ini dilakukan oleh guru, belum dapat mengoptimalkan kemampuan siswa dalam memahami materi pelajaran, siswa lebih bersifat pasif dan kurang termotivasi untuk mengikuti proses belajar mengajar.
      Berdasarkan hasil yang dicapai guru mata pelajaran IPS  ditemukan bahwa penyebab rendahnya hasil belajar siswa kelas IX F pada mata pelajaran IPS, karena kurangnya kemampuan berpikir siswa karena guru kurang menggunakan variasi dalam menggunakan metode mengajar. Dalam kegiatan belajar mengajar guru IPS ekonomi masih menggunakan metode ceramah kepada siswa, metode tanya jawab juga digunakan akan tetapi jumlahnya relatif sedikit. Selain itu proses belajar mengajar dilaksanakan pada siang hari sehingga siswa menjadi lebih pasif dan kurang termotivasi untuk mengikuti proses belajar mengajar.
      Oleh karena itu, penulis melakukan perbaikan melalui penelitian tindakan kelas. Dengan penelitian ini juga dapat dilakukan observasi, refleksi dan menentukan langkah-langkah selanjutnya. Sehingga kemampuan berpikir siswa dapat ditingkatkan dan siswa termotivasi untuk mengikuti kegiatan belajar mengajar.
Berdasarkan uraian-uraian diatas, maka perlu dilakukan penelitian tindakan kelas mengenai “ Meningkatkan Kemampuan Berpikir Siswa Pada Mata Pelajaran IPS Melalui Model Pembelajaran Alternatif bermain puzzle angka di  Kelas IX F MTs Negeri 1 Pontianak Tahun Pelajaran 2019//2020”..       
A.    Rumusan Masalah
Adapun masalah penelitiannya adalah “apakah kemampuan berpikir siswa kelas IX F di Madrasah Tsanawiyah Negeri 1 Pontianak dapat ditingkatkan dengan menggunakan model pembelajaran bermain puzzle angka oleh guru?”. Hal ini disebabkan karena :
1.      Metode mengajar yang digunakan guru kurang bervariasi.
2.      Guru menggunakan metode ceramah.
3.      Siswa pasif dan kurang termotivasi untuk mengikuti proses belajar mengajar.

B.     Hipotesis Tindakan

Adapun Hipotesis tindakan sebagai berikut :”Jika model pembelajaran bermain puzzle angka diterapkan dalam mata pelajaran IPS, maka kemampuan berpikir siswa kelas IX F MTs. Negeri 1 Pontianak tahun pelajaran 2019/2020 dapat ditingkatkan”.

C.    Manfaat Penelitian

1.      Bagi Sekolah
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan kepada pihak sekolah untuk dapat meningkatkan kinerjanya dalam pengelolaan pembelajaran, terutama dalam menemukan dan mempergunakan model-model pembelajaran alternatif  yang pada akhirnya dapat meningkatkan kualitas siswa, dan mutu sekolah.
2.      Bagi Guru
Penelitian ini diharapkan pula dapat bermanfaat bagi guru khususnya guru IPS  sebagai bahan masukan dalam Meningkatkan kemampuan berpikir siswa khususnya siswa kelas IX F di MTs Negeri 1 Pontianak.
3.      Bagi Siswa
Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi siswa untuk lebih meningkatkan kemampuan berpikirnya dalam mencapai hasil yang maksimal.

4.      Bagi Pengembang Kurikulum
Penelitian ini diharapkan dapat mencari solusi/pemecahan masalah terhadap permasalahan yang dihadapi baik guru maupun siswa sehingga dapat meningkatkan daya piker melalui tindakan nyata dengan menerapkan berbagai model pembelajaran sebagai pijakan dalam mengembangkan kurikulum


Tidak ada komentar:

Posting Komentar